Frust.
Itu hanyalah satu dari banyaknya emosi. Bukti kamu masih manusia.
Emosi bisa berubah. Emosi bahagian dari manusia. Harus, manusia juga bisa berubah.
Ya. Perlahan2, kamu bisa.
Thursday, May 26, 2016
Wednesday, May 25, 2016
Bitter Sweet
Sudah melangkau 30+, pasti sudah banyak yang boleh dikongsi dengan generasi terkemudian.
Bitter sweet, perjalanan masih jauh. Klisé? Yup. Tapi manusia masih belum faham, sepenuhnya.
Peace.
Bitter sweet, perjalanan masih jauh. Klisé? Yup. Tapi manusia masih belum faham, sepenuhnya.
Peace.
Thursday, May 17, 2012
fazrimukhtar 'REBORN'
Usai sudah menjalani kehidupan selama 30 tahun pada tarikh keramat ini. Banyak perkara sudah ditempuh. Namun, perjalanan masih jauh. Masih banyak lagi pengalaman yang harus ditempa.
30 tahun mencari erti hidup. Alhamdulillah, sedikit-sebanyak sudah diperlihatkan secara jelas. Apa yang harus dilakukan seterusnya bergantung pada akal yang berfikir dan hati yang melihat.
Hidup harus berkembang. Tidak banyak, sedikitpun tidak mengapa. Apa yang lebih penting ialah istiqomah dalam memajukan diri.
Barang diingat, setiap pengakhiran itu adalah permulaan bagi sesuatu yang lain. Semoga 'kelahiran semula' ini memberi dimensi baru dalam mencapai matlamat yang lebih besar.
*Selamat Hari Ulang Tahun*
Saturday, May 5, 2012
Orang Berjaya Mencari Jalan, Orang Gagal Mencari Alasan
Betapa peri pentingnya manusia sesama manusia itu bergaul. Masakan boleh hidup seorang? Tarzan di hutan pun mencari Terk si Gorilla dan Tantor si Gajah sebagai teman. Teman penting sebagai cermin diri.
Baru sahaja berborak dengan seorang
teman yang bukan calang-calang orangnya. Dalam borak itu ada isi. Dia mengajar
saya satu rahsia orang berjaya. Dia orang berjaya, maka saya ambil nasihat dia.
Katanya "...yang membezakan orang
berjaya dengan yang tidak ialah kemahiran menyelesaikan masalah".
Ringkas tapi penuh makna.
Saya ada
bersahabat dengan orang-orang yang sentiasa mencari jalan untuk mencapai hasrat
mereka. Mereka memang tekun, fokus dan sangat berdedikasi dalam mencapai
matlamat mereka. Halangan pasti ada. Namun, orang yang berjaya mesti mencari
jalan bagi mengatasi halangan tersebut. Halangan terbesar sebenarnya
adalah diri sendiri. Persis pepatah melayu, 'Nak Seribu Daya, Tak Nak Seribu
Dalih'. Mudah disebut, tak mudah dilaksana bagi orang yang tertutup mindanya.
Ada juga kawan
saya yang tidak mahu bergerak kalau semuanya belum sempurna. Kejayaan itu perlu dicari. Ia tidak
akan datang dengan sendiri. Kebiasaannya, kejayaan berkembang secara perlahan-lahan
seperti bola salji yang menuruni bukit. Makin lama bola itu bergolek ke bawah,
makin besar ia diselaputi salji. Kalau
mahu tunggu sempurna, memang itu tidak akan berlaku. Kamu harus bergerak,
barulah ia akan berkembang (semasa ia bergerak), kawan.
Orang yang berjaya akan sentiasa fully-utilize apa
sahaja yang ada di hadapan mata mereka. Mereka sentiasa berfikir untuk
mendapatkan hasil yang optima dengan menggunakan sumber yang ada semaksima
mungkin. Akal perlu berfikir seperti badan perlu bersenam. Makin aktif berfikir
makin tajam akal sepertimana kerapnya bersenam menghasilkan susuk tubuh yang
sihat.
Carilah jalan
untuk berjaya. Sebesar manapun masalah yang timbul pasti ada jalan penyelesaian
bagi mereka yang berfikir. Gerakkan minda, tajamkan akal. Kemahiran
menyelesaikan masalah ini memerlukan latihan intensif yang istiqomah. Kalau
kamu rasa seperti mahu kalah,
sentiasa ingat bahawasanya kejayaan kamu ada selangkah sahaja lagi di hadapan.
Tabahkan diri, kuatkan semangat. Kejayaan itu sentiasa berpihak kepada orang
yang berusaha.
Bagi mereka yang
masih mencari alasan, carilah satu alasan untuk kamu berubah. Pintu kejayaan
senantiasa terbuka untuk orang yang mahu dan tahu merubah nasib diri. Masih ada masa untuk kamu.
Sunday, April 22, 2012
Selamat Kembali
Assalamualaikum w.b.t. Dah setahun berlalu sejak kali terakhir update blog ni. Hari ini rasa nak menulis kembali tu datang. Al-maklumlah, disibukkan oleh hal-hal duniawi. Kerja, keluarga, kawan2, hal-hal peribadi dam macam-macam lagi.
Sebenarnya dah lama nak 'blogging' ni, tapi biasalah, alasan-alasan datang. Kalau dah diri sendiri tak berganjak, siapa lagi nak tolong. 'Biasalah' sudah tidak boleh biasa lagi. 'Alasan' perlu dihijrah supaya tidak malas lagi.
Cakap pasal Hijrah, Alhamdulillah sedikit-sebanyak 'action plan' telah diambil. Pengorbanan berjauhan dengan anak-anak dan isteri di utara semenanjung diharap dapat membuahkan manfaat.
Permaisuri hati tengah giat berguru dengan Ibu tersayang. Berguru menjahit. Fokus pada fesyen muslim/muslimah kanak-kanak katanya. Asal strateginya mantap, padu, sebagai 'penjaga', sokongan 100% harus diberikan.
Bukan senang nak berjauhan dengan keluarga, terutama anak-anak. Masa Raudhah lahir, tinggalkan Rayyan kat rumah nenek di Subang pun sudah terasa rindu, inikan pula dipisahkan dengan jarak 400km.
Namun, anggaplah pelaburan bermodalkan pengorbanan ni sebagai satu langkah permulaan menuju ke garisan yang lebih panjang.
Semoga hari-hari suram sudah tiada lagi untuk esok. Biarkan detik-detik kemenangan kembali. Kali ini, biar kemenangan kita lebih besar.
Selamat kembali, aku.
Wednesday, August 25, 2010
'JADILAH PROAKTIF'
"Siapa kita ?"
Sebagian orang beranggapan bahwa pada dasarnya "kepribadian" setiap orang telah dibentuk, bukan dari "kekuasaannya" sendiri dalam memilih "warna" pribadinya. Ia "telah dibentuk" oleh cara orang tuanya membesarkannya, atau dari adat di sukunya, atau dari kondisi lingkungan di mana saat itu ia berada. Ada juga yang menganggap bahwa pertanyaan di atas dapat dijawab dengan mendengarkan pihak eksternal daripada mendengar dari yang bersangkutan, bagaimana lingkungan berbicara tentangnya.
Pada kenyataannya, orang-orang yang memiliki nama besar justru membuktikan bahwa sebenarnya setiap manusia mempunyai kebebasan sejati untuk menentukan jawaban "siapa diri"-nya. Tidak bergantung pada sikap orang kepadanya, juga kondisi lingkungannya. Karena setiap orang memiliki kebebasan ini, maka setiap orang juga bertanggung jawab penuh atas kehidupannya sendiri. Inilah arti proaktivitas. Tidak "menyerahkan" diri pada faktor eksternal untuk mengendalikan hidup kita. Kebalikannya adalah reaktif : menyalahkan keadaan, mencari kambing hitam atas kelemahan dan ketidakmampuan diri. Di antara stimulus (keadaan, lingkungan, orang-orang) dan respons, kita memiliki kebebasan untuk memilih. Karena sebenarnya, bukan apa yang orang lain perbuat atau bahkan bukan pula kesalahan kita sendiri yang paling melukai kita, melainkan respons kita terhadap hal-hal itu. Tak ada yang dapat menyakiti kita tanpa kita menyetujuinya.
Proaktif tidak sekedar berarti biasa mengambil inisiatif. Tetapiselain berinisiatif, juga memahami dengan jeli permasalahan yang dihadapinya dengan kaca mata nilai yang akurat, dan tidak semata mengikuti perasaan. Orang proaktif dapat meletakkan perasaan setelah nilai. Orang proaktif memahami dengan baik kekuatan dan kelemahan di dalam dan di luar dirinya, dan ia dapat menjadi manajer yang baik terhadap hal-hal tersebut untuk kemajuan dirinya.
Hal ini karena sifat dasar manusia yang sebenarnya adalah bertindak, bukan menjadi dasar tindakan. Meskipun, tidak berarti kita menjadi agresif dan menjengkelkan. Karena proaktif tidak berarti meletakkan tanggung jawab di tangan kita untuk membuat segalanya terjadi.
Apakah kita orang yang proaktif atau reaktif ? Bahasa kita adalah indikator yang sangat riil mengenai tingkat di mana kita memandang diri kita sebagai orang yang proaktif. Seberapa seringkah kita mengatakan, "Saya harus," "Memang begitulah saya", "Seandainya・. Sebaliknya, seberapa sering pulakah kita mengatakan, "Saya memilih,", "Saya dapat", "Saya akan,"・ Kelompok pertama adalah bahasa reaktif, dan yang kedua adalah bahasa proaktif.
Orang reaktif banyak menggunakan kalimat "sendainya mempunyai" : "seandainya saya mempunyai rumah yamg sudah lunas, saya tentu bahagia," "Seandainya saya mempunyai suami yang lebih sabar, tentu hidup saya lebih menyenangkan," dan sejenisnya. Sedangkan orang proaktif akan menggunakan kalimat "Menjadi" atau "Akan menjadi" : "Saya dapat menjadi lebih sabar," "Saya dapat belajar dan berusaha", "saya akan menjadi orang yang bisa mendengar dan memahami."
Di dalam diri setiap manusia, ada banyak hal yang manusiawai untuk dikhawatirkan : kesehatan, anak-anak, karir, utang negara. Kita menyebutnya Lingkaran Kekhawatiran. Saat kita menengok ke dalam lingkaran kekhawatiran kita, maka kita dapat melihat bahwa di dalam lingkaran tersebut ada hal-hal yang dapat kita lakukan terhadapnya. Kita memasukkannya ke dalam "Lingkaran Pengaruh." Orang proaktif memusatkan energinya untuk bekerja pada lingkaran pengaruh, sehingga menghasilkan energi yang memperbesar lingkaran pengaruhnya dan memperkecil lingkaran kekhawatirannya. Artinya, ia bekerja terus pada hal-hal yang dapat diusahakannya dan tidak berlama-lama/menghabiskan banyak energi dalam kekhawatirannya. Sebaliknya, orang reaktif akan memusatkan energinya pada lingkaran kekhawatiran sehingga menghasilkan energi negatif yang memperkecil lingkaran pengaruh mereka.
Menurut kendalinya, masalah dapat dikelompokkan dalam 3 area : masalah yang melibatkan perilaku kita sendiri (kendali langsung), masalah yang meibatkan perilaku orang lain (kendali tak langsung) dan masalah yang kita tidak dapat berbuat sesuatu terhadapnya, seperti masa lalu atau realitas situasi (tanpa kendali). Masalah kendali langsung dipecahkan dengan memperbaiki kebiasaan kita kemenangan pribadi-- . Masalah kendali tak langsung dipecahkan dengan mengubah metode pengaruh kita kemenangan publik. Masalah tanpa kendali memerlukan sikap lapang dada, dan belajar hidup bersamanya serta mengambil pelajaran darinya.
Sesuatu yang patut kita renungkan dalam-dalam adalah konsekuensi. Kita memiliki kebebasan untuk bertindak, tetapi kita tidak memiliki kebebasan memilih konsekuensi tindakan kita. Tindakan dan konsekuensi adalah dua ujung yang berada pada satu tongkat yang sama. Saat kita mengangkat satu ujung, ujung lain pun ikut terangkat. Dengan kata lain, bagaimana keadaan kita hari ini adalah akibat dari keputusan kita kemarin. Kadang-kadang kita menyadari bahwa kemarin kita telah mengangkat tongkat yang salah. Sikap proaktif terhadap kesalahan adalah segera mengakuinya dengan sportif, kemudian belajar darinya.
Bagian paling inti dari proaktivitas kita adalah kemampuan kita untuk membuat komitmen dan memenuhinya. Cobalah dalam tiga puluh hari untuk mengenali diri Anda, dengarkan bahasa Anda dan orang di sekitar Anda. Buatlah komitmen kecil dan lihatlah bagaimana Anda memenuhinya.
Sumber: http://ummahattokyo.tripod.com/kepribadian/jadilah_proaktif.htm
Friday, October 16, 2009
Subscribe to:
Posts (Atom)
